Hapsah’s Weblog

Posted by: hapsah on: Juni 18, 2009

SMP/MtsN. : SMP 5 NEGERI BANJARMASIN
Program : Ilmu Pengetahuan Sosial
Mata Pelajaran : Sejarah
Kelas/Semester : VII/ 1
Standar kompetensi : Memahami Lingkungan Kehidupan Manusia Prasejarah
Kompetensi dasar : Mendiskripsikan Kehidupan Masa Prasejarah di Indonesia
Indikator :
a. Mengklasifikasikan pembabakan, corak kehidupan dan hasil budaya masyarakat prasejarah
b. Mendeskripsakan ciri-ciri kehidupan masyarakat prasejarah di Indonesia
c. Mendeskripsikan nilai-nilai peninggalan budaya masa prasejarah Indonesia.

1. Manusia purba memilih gua sebagai tempat tinggal dengan alasan……
a.Agar tidak terjadi perang antar suku
b.Mudah mendapat makanan
c.Mempermudah komunikasi
d.Untuk menghindari bahaya/ binatang buas

2.Fungsi dari Menhir adalah…….
a.Tempat mengubur mayat
b.Alat berburu
c.Gendera perang
d.Tempat menambatkan hewan kurban

3. Bagaimana hubungan antara zaman perunggu di Indonesia dengan kebudayaan Dong Son…….
a.Zaman perunggu di Indonesia bersamaan dengan zaman perunggu di Dong So
b.Indonesia mengimpor perunggu dari Dong Son
c.Kebudayaan di Dong So dipengaruhi oleh zaman perunggu di Indonesia
d.Keahlian membuat perunggu di Indonesia berasal dari Dong So

4. Tujuan kedatangan Dubois ke Indonesia adalah…….
a.Menyelidiki lebih lanjut tentang manusia purba
b.Karena tugas yang diberikan pemerintah kerajaan
c.Menguasai wilayah Indonesia
d.Menyelidiki bahasa rakyat Indonesia

5. Mengapa Indonesia tidak mengalami masa zaman tembaga…….
a.Nenek moyang bangsa Indonesia datang setelah zaman tembaga
b.Indonesia tidak menghasilkan tembaga
c.Bangsa Indonesia tidak suka barang-barang dari tembaga
d.Zaman dari tembaga hanya terjadi dalam waktu singkat

6. Bandingkan alat-alat kerajinan yang dihasilkan dari kebudayaan masa paleolithikumdengan jaman neolithikum…….
a.Masih kasardan tidak halus
b.Belum ditempa
c.Masih kasar dan halus
d.Halus dan sudah ditempa

7. Perbedaan utama antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah terletak pada…….
a.Masalah tulisan
b.Masalah pemerintahan
c.Masalah kebudayaan
d.Masalah ekonomi

8. Menagapa Zaman neolithikum merupakan suatu revolusi dalam kehidupan manusia Indonesia…….
a.Datangnya bangsa Melayu geelombang pertama
b.Perubahan cara hidup dari food gathering ke food producing
c.Teknik pembuatan perkakas makin halus
d.Cara hidup manusia makin maju

9. Ciri-ciri kehidupan pada zaman batu tua (paleolithikum) adalah…….
a.Mengenai bercocok tanam
b.Membuat alat-alat rumah tangga
c.Mampu mengeloh makanan sendiri
d.Makanannya diperoleh dari alam

10. * Ditemukan dilapisan plestosen atas
* Volume otak lebih besar
* Merupakan nenek moyang bangsa asli Australia
Fosil purba apakah yang dimaksud…….
a.Phitecanthropus Erectus
b.Homo erectus
c.Homo Wajakensis
d.Phitecanthropus

kunci Jawaban

1. d

2. d

3. d

4.d

5. a

6. c

7. a

8. b

9. d

10. a

Kisi-kisi Instrumen Penilaian

4

Perhitungan Validitas dan Reabilitas Dengan Product Moment Korelasi Angka Kasar

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara variabel x dengan y, dua variabel yang dikorelasikan

rXY = koefisien korelasi antara variabel X dengan Y, dua variabel yang dikorelasikan

∑ xy = jumlah perkalian antara x dengan y

x² = kuadrat dari x

y² = kuadrat dari y

2 r ½½ = korelasi antara skor-skor setiap belahan tes

r11 = korelasi reliabilitas yang sudah disesuaikan

komentar “menulis manusia prasejarah”

Posted by: hapsah on: Juni 14, 2008

  • By st.nurhapsah on Jun 14, 2008 | Reply

    Entah mengapa menulis itu menjadi sebuah momok yang menakutkan. Padahal bila di lakukan atau dikerjakan, menulis itu mudah saja. Tapi kebanyakan orang tidak mau menulis karena takut akan kritik dan hujatan yang akan diterimanya.

  • komentar “menulis purbakala”

    Posted by: hapsah on: Juni 14, 2008

  • By st.nurhapsah on Jun 14, 2008 | Reply

    Jika diberi pilihan saya mau kembali ke keadaan alam jaman dahulu, tetapi pola pikirnya maju seperti era sekarang. karena bila dikaitkan dengan menulis, kemungkinan akan banyak sekali bahan yang dapat saya uraikan berdasarkan hasil pengamatan. Itu bila seperti harapan yang saya utarakan diatas.

  • PEMADAMAN LISTRIK YANG TIDAK KARUAN

    Posted by: hapsah on: Mei 29, 2008

    Akhir-akhir ini sering terjadi pemadaman listrik yang tidak beraturan, bahkan lebih gila lagi satu malam bisa terjadi 4 kali pemadaman yang tidak kenal waktu. Ada apa dengan PLN ?

    Kalimantan Selatan mempunyai PLTA di Riam Kanan dan PLTU yang berada di Asam-Asam. Kedua PLTA dan PLTU tersebut menyuplai KALSELTENG. PLTA di Riam kanan sudah pasti menggunakan air yang berada di waduk tersebut untuk membangkit listrik. Sedang PLTU menggunakan solar dan batu bara sebagai bahan bakarnya.Penggunaan kedua bahan bakar tersebut secara bergantian terbagi dalam :  0-30% menggunakan solar, 30%-60% menggunakan solar dan batu bara, 60% hingga berkekuatan maksimum menggunakan batu bara. Pemadaman listrik yang tidak beraturan dikarenakan adanya kesalahan tehknis di PLTU Asam-Asam. Ini semua mengakibatkan tidak dapat menyuplai listrik secara penuh. Terjadi pemadaman yang tidak beraturan di daerah-daerah. Apakah Pemerintah Daerah hanya berdiam diri saja ?

    Kalimantan terkenal sebagai daerah pemasok batu bara. Emas hitam, penyebutan lain batu bara, hampir dihasilkan di setiap daerah. Setiap hari hilir mudik truk-truk mengangkut hasil alam Kalimantan ini untuk orang lain. Gunung-gunung di tebas untuk menemukan hasil alam ini.Dampak lingkungan yang di timbulkan tidak sedikit dari penambangan ini. Mengapa PLTU Asam-Asam tidak menggunakan batu bara secara penuh ?

    Kegunaan listrik sangat vital dalam kehidupan manusia. Hampir setiap detil kegiatan manusia tidak terlepas dengan listrik. Zaman yang semakin canggih, hampir semua peralatan hidup menggunakan listrik. Pemadaman listrik yang tidak karuan membuat resah banyak orang. Coba anda bayangkan seandainya Rumah Sakit tidak menggantungkan 100% dengan PLN, pasien yang berada di ruang ICU yang hidupnya bergantung dengan peralatan, tiba-tiba listrik padam. Mungkin mati pasien tersebut. Hal yang fatal seperti ini tentunya sudah dipikirkan pihak RS. Masyarakat ekonomi rendah apakah mempunyai alternatif lain selain menggunakan listrik dan minyak tanah?. Pemerintah sekarang membuat kebijakan baru agar seluruh masyarakat indonesia dari pengunaan minyak tanah beralih dengan menggunakan gas elpiji. Semakin sulit masyarakat mendapatkan minyak tanah, apalagi sekarang BBM harganya dinaikkan. Apakah kembali ke zaman ketika listrik masih langka penggunaannya?

    100 tahun sudah kebangkitan nasional berlalu.namun, gaung-gaungnya masih terdengar. Sekarang ini berjuang tidak seperti dulu,berjuang melawan penjajah.Perjuangan sekarang ini melawan imperialisme secara modern. Penjajahan tidak dalam bentuk penindasan, penjajahan lebih berbentuk inmateriil. Kebudayaan di akui orang lain, dimasukkan kebudayaan baru yang tidak beretika. Inikah kado dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional?

    Kotak Saran yang Tidak Berfungsi

    Posted by: hapsah on: Mei 21, 2008

    Sering kali kita bolak-balik melewati ruang BEM FKIP, tetapi hanya melihat sekilas keberadaan kotak saran yang berada didepan ruang BEM tersebut. Kotak saran sudah diletakkan ditempat yang strategis, agar terlihat jelas untuk dipergunakan, tetapi kegunaanya masih dipertanyakan. Seperti kita ketahui kotak saran berfungsi untuk tempat mahasiswa menyampaikan aspirasi secara tertulis, akan tetapi sepertinya tidak ada mahasiswa yang peduli. Padahal kotak saran itu diperuntukkan untuk semua warga FKIP yang peduli akan kondisi FKIP. Dengan tidak berjalannya fungsi kotak saran tersebut,berarti warga FKIP tidak ambil pusing dengan keadaan FKIP dan segala masalahnya. Ikut mengalir saja, cuek dengan situasi yang ada. Yang ada dipikiran mahasiswa, kekampus hanya jika ada mata kuliah.

    Sebenarnya di FKIP banyak terdapat kotak saran yang keberadaannya di pisah-pisah. Satu kotak saran saja tidak ada isinya, hanya debu dan sarang laba-laba yang betah berada di dalamnya. Apakah kotak saran hanya sebagai pajangan dan pelengkap saja?.

    Kotak saran tidak hanya digunakan untuk mengkritik keberlangsungan FKIP, tetapi dapat memberikan saran-saran yang membangun untuk FKIP kedepannya. Sebagai mahasiswa yang kuliah di FKIP sudah seharusnya kita peduli dengan kampus kebanggaan kita. Dengan menyampaikan pesan atau kritik melewati kotak saran, berarti sudah ikut berpartisipasi untuk kemajuan FKIP.

    Rumah Banjar

    Posted by: hapsah on: Mei 12, 2008

    Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris.Menurut Idwar Saleh (1984:5) Rumah tradisonal Banjar adalah type-type rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung (ba-anjung) yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, walaupun ada pula beberapa type Rumah Banjar yang tidak ber-anjung. Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah Rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton (Dalam Sultan). Jadi nilainya sama dengan rumah joglo di Jawa yang dipakai sebagai keraton. Keagungan seorang penguasa pada masa pemerintahan kerajaan diukur oleh kuantitas ukuran dan kualitas seni serta kemegahan bangunan-bangunan kerajaan khususnya istana raja (Rumah Bubungan Tinggi). Dalam suatu perkampungan suku Banjar terdiri dari bermacam-macam jenis rumah Banjar yang mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah. Dalam kampung tersebut rumah dibangun dengan pola linier mengikuti arah aliran sungai maupun jalan raya terdiri dari rumah yang dibangun mengapung di atas air, rumah yang didirikan di atas sungai maupun rumah yang didirikan di daratan, baik pada lahan basah (alluvial) maupun lahan kering.Jenis-jenis Rumah Adat Banjar. Arsitektur regionalisme bergaya rumah Bubungan Tinggi

             Rumah Bubungan Tinggi

             Rumah Gajah Baliku

             Rumah Gajah Manyusu

             Rumah Balai Laki

             Rumah Balai Bini

             Rumah Palimbangan

             Rumah Palimasan (Rumah Gajah

             Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)

             Rumah Tadah Alas

             Rumah Lanting

             Rumah Joglo Gudang

             Rumah Bangun Gudang

     

    Sejarah dan Perkembangan Rumah Adat Banjar.

    Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º. Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang. Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620. Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi.. Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tamapak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar. Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung. Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain. Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan. Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak. Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang. Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba. Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung. Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.

     

    Rumah Adat Banjar di Kalteng dan Kaltim

    Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan. Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin Barat, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah. Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah. Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka. Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

     

    Kondisi Rumah Adat Banjar

    Akan tetapi sekarang dapat dikatakan bahwa rumah ba-anjung atau rumah Bubungan Tinggi yang merupakan arsitektur klasik Banjar itu tidak banyak dibuat lagi. Sejak tahun 1930-an orang-orang Banjar hampir tidak pernah lagi membangun rumah tempat tinggal mereka dengan bentuk rumah ba-anjung. Masalah biaya pembangunan rumah dan masalah areal tanah serta masalah mode nampaknya telah menjadi pertimbangan yang membuat para penduduk tidak mau membangun lagi rumah-rumah mereka dengan bentuk rumah ba-anjung. Banyak rumah ba-anjung yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya sekarang dirombak dan diganti dengan bangunan-bangunan bercorak modern sesuai selera jaman. Tidak jarang dijumpai di Kalimantan Selatan si pemilik rumah ba-anjung justru tinggal di rumah baru yang (didirikan kemudian) bentuknya sudah mengikuti mode sekarang. Apabila sekarang ini di daerah Kalimantan Selatan ada rumah-rumah penduduk yang mempunyai gaya rumah adat ba-anjung, maka dapatlah dipastikan bangunan tersebut didirikan jauh sebelum tahun 1930. Untuk daerah Kalimantan Selatan masih dapat dijumpai beberapa rumah adat Banjar yang sudah sangat tua umurnya seperti di Desa Sungai Jingah, Kampung Melayu Laut di Melayu, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin, Desa Teluk Selong Ulu, Maratapura, Banjar, Desa Dalam Pagar), Desa Tibung, Desa Gambah (Kandangan), Desa Birayang (Barabai), dan di Negara. Masing-masing rumah adat tersebut sudah dalam kondisi yang amat memprihatinkan, banyak bagian-bagian rumah tersebut yang sudah rusak sama sekali. Pemerintah sudah mengusahakan subsidi buat perawatan bangunan-bangunan tersebut. Namun tidak jarang anggota keluarga pemilik rumah menolak subsidi tersebut karena alasan-alasan tertentu , seperti malu atau gengsi. Karena merasa dianggap tidak mampu merawat rumahnya sendiri. Bagaimanapun keadaan rumah-rumah tersebut, dari sisa-sisa yang masih bisa dijumpai dapat dibayangkan bagaimana artistiknya bangunan tersebut yang penuh dengan berbagai ornamen menarik.Rumah Banjar yang lapuk dimakan zaman.

     

    Bagian dan Konstruksi Rumah Tradisonal Banjar.

    1. Pondasi, Tiang dan Tongkat

    Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan dengan lantai yang tinggi. Pondasi, tiang dan tongkat dalam hal ini sangat berperan. Pondasi sebagai konstruksi paling dasar, biasanya menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan tongkat menggunakan kayu ulin, dengan jumlah mencapai 60 batang untuk tiang dan 120 batang untuk tongkat.

     

    2. Kerangka

    Kerangka rumah ini biasanya menggunakan ukuran tradisional depa atau tapak kaki dengan ukuran ganjil yang dipercayai punya nilai magis / sakral. Bagian-bagian rangka tersebut adalah :

    1.   susuk dibuat dari kayu Ulin.

    2.   Gelagar dibuat dari kayu Ulin, Belangiran, Damar Putih.

    3.   Lantai dari papan Ulin setebal 3 cm.

    4.   Watun Barasuk dari balokan Ulin.

    5.   Turus Tawing dari kayu Damar.

    6.   Rangka pintu dan jendela dari papan dan balokan Ulin.

    7.   Balabad dari balokan kayu Damar Putih. Mbr>

    8.   Titian Tikus dari balokan kayu Damar Putih.

    9.   Bujuran Sampiran dan Gorden dari balokan Ulin atau Damar Putih.

    10.   Tiang Orong Orong dan Sangga Ributnya serta Tulang Bubungan dari balokan kayu Ulin, kayu Lanan, dan Damar Putih.

    11.   Kasau dari balokan Ulin atau Damar Putih.

    12.   Riing dari bilah-bilah kayu Damar putih.

    3. Lantai

    Di samping lantai biasa, terdapat pula lantai yang disebut dengan Lantai Jarang atau Lantai Ranggang. Lantai Ranggang ini biasanya terdapat di Surambi Muka, Anjung Jurai dan Ruang Padu, yang merupakan tempat pembasuhan atau pambanyuan. Sedangkan yang di Anjung Jurai untuk tempat melahirkan dan memandikan jenazah. Biasanya bahan yang digunakan untuk lantai adalah papan ulin selebar 20 cm, dan untuk Lantai Ranggang dari papan Ulin selebar 10 cm.

    4. Dinding

     Dindingnya terdiri dari papan yang dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga diperlukan Turus Tawing dan Balabad untuk menempelkannya. Bahannya dari papan Ulin sebagai dinding muka. Pada bagian samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Jurai dan Ruang Padu, terkadang dindingnya menggunakan Palupuh.

    5. Atap

     Atap bangunan biasanya menjadi ciri yang paling menonjol dari suatu bangunan. Karena itu bangunan ini disebut Rumah Bubungan Tinggi. Bahan atapnya terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.

    6. Ornamentasi (Ukiran)

    Penampilan rumah tradisional Bubungan Tinggi juga ditunjang oleh bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada bagian yang konstruktif seperti tiang, tataban, pilis, dan tangga. Sebagaimana pada kesenian yang berkembang dibawah pengaruh Islam, motif yang digambarkan adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif floral. Di samping itu juga terdapat ukiran bentuk kaligrafi. Kaligrafi Arab merupakan ragam hias yang muncul belakangan yang memperkaya ragam hias suku Banjar. (Museum Lambung MangkuratBanjarbaru, “Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya”, 1992/1993)

    Cara Menentukan Ukuran Rumah Adat Banjar

    Cara Menentukan Ukuran Rumah Adat Banjar dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

    1.   Panjang dan lebar rumah ditentukan ukuran depa suami dalam jumlah ganjil. (Depdikbud, Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, 1986 : 87)

    2.   Dihitung dengan mengambil gelagar pilihan, kemudian dihitungkan dengan perhitungan gelagar, geligir, gelugur. Bila hitungannya berakhir dengan geligir atau gelugur maka itu pertanda tidak baik sehingga harus ditutup dengan gelagar. Hitungan gelagar akan menyebabkan rumah dan penghuninya mendapatkan kedamaian dan keharmonisan. (Depdikbud, Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, 1986 : 87)

    3.   Cara lain menurut Alfani Daud, MA. (1997 : 462); Ukuran panjang dan lebar rumah dilambangkan delapan ukuran lambang binatang yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, gagak. Panjang ideal dilambangkan naga dan lebarnya dilambangkan gajah.Yang tidak baik ialah lambang binatang asap, anjing, keledai, atau gagak. (Jumlah) panjang depa seseorang yang membangun rumah dibagi delapan mewakili binatang berturut-turut seperti tersebut terdahulu. (Tiap depa dikalikan 12). Bila panjang rumah 6 depa, berarti 6 x 12 ukuran atau 72 ukuran, maka jika ukurannya dilambangkan oleh binatang naga, haruslah ditambah 1/12 depa lagi. Untuk memperoleh ukuran lambang gajah, panjang itu harus ditambah 7/12 depa atau dikurangi 1/12 depa. (Alfani Daud, MA, Islam dan Masyarakat Banjar, 1997 : 462)

    Filosofi Rumah Adat Banjar

    Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah.Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.Penghuni seakan-akan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah. Di rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia bawah melambangkan Mahatala dan Jata (suami dan isteri).rumah Bubungan Tinggi melambangkan berpadunya Dunia Atas dan Dunia Bawah

    Dwitunggal Semesta

    Pada peradaban agraris, rumah dianggap keramat karena dianggap sebagai tempat bersemayam secara ghaib oleh para dewata seperti pada rumah Balai suku Dayak Bukit yang berfungsi sebagai rumah ritual. Pada masa Kerajaan Negara Dipa sosok nenek moyang diwujudkan dalam bentuk patung pria dan wanita yang disembah dan ditempatkan dalam istana. Pemujaan arwah nenek moyang yang berwujud pemujaan Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung Buih merupakan simbol perkawinan (persatuan) alam atas dan alam bawah Kosmogoni Kaharingan-Hindu. Suryanata sebagai manifestasi dewa Matahari (Surya) dari unsur kepercayaan Kaharingan-Hindu, matahari yang menjadi orientasi karena terbit dari ufuk timur (orient) selalu dinantikan kehadirannya sebagai sumber kehidupan, sedangkan Puteri Junjung Buih berupa lambang air, sekaligus lambang kesuburan tanah berfungsi sebagai Dewi Sri di Jawa. Pada masa tumbuhnya kerajaan Hindu, istana raja merupakan citra kekuasaan bahkan dianggap ungkapan berkat dewata sebagai pengejawantahan lambang Kosmos Makro ke dalam Kosmos Mikro. Puteri Junjung Buih sebagai perlambang “dunia Bawah” sedangkan Pangeran Suryanata perlambang “dunia atas”. Pada arsitektur Rumah Bubungan Tinggi pengaruh unsur-unsur tersebut masih dapat ditemukan. Bentuk ukiran naga yang tersamar/didestilir (bananagaan) melambangkan “alam bawah” sedangkan ukiran burung enggang melambangkan “alam atas”.

    Pohon Hayat

    Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi dengan atapnya yang menjulang ke atas merupakan citra dasar dari sebuah “pohon hayat” yang merupakan lambang kosmis. Pohon Hayat merupakan pencerminan dimensi-dimensi dari satu kesatuan semesta. Ukiran tumbuh-tumbuhan yang subur pada Tawing Halat (Seketeng) merupakan perwujudan filosofi “pohon kehidupan” yang oleh orang Dayak disebut Batang Garing dalam kepercayaan Kaharingan yang pernah dahulu berkembang dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan pada periode sebelumnya.

    Payung

    Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi dengan atapnya yang menjulang ke atas merupakan sebuah citra dasar sebuah payung yang menunjukkan suatu orientasi kekuasaan ke atas. Payung juga menjadi perlambang kebangsawanan yang biasa menggunakan “payung kuning” sebagai perangkat kerajaan. Payung kuning sebagai tanda-tanda kemartabatan kerajaan Banjar diberikan kepada para pejabat kerajaan di suatu daerah.

    Simetris

    Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi yang simetris, terlihat pada bentuk sayap bangunan atau anjung yang terdiri atas Anjung Kanan dan Anjung Kiwa. Hal ini berkaitan dengan filosofi simetris (seimbang) dalam pemerintahan Kerajaan Banjar, yang membagi kementerian, menjadi Mantri Panganan (Kelompok Menteri Kanan) dan Mantri Pangiwa (Kelompok Menteri Kiri), masing-masing terdiri atas 4 menteri, Mantri Panganan bergelar ‘Patih’ dan Mantri Pangiwa bergelar ‘Sang’, tiap-tiang menteri memiliki pasukan masing-masing. KOnsep simetris ini tercermin pada rumah bubungan tinggi.

    Kepala-Badan-Kaki

    Bentuk rumah Bubungan Tinggi diibaratkan tubuh manusia terbagi menjadi 3 bagian secara vertikal yaitu kepala, badan dan kaki. Sedangkan anjung diibaratkan sebagai tangan kanan dan tangan kiri yaitu anjung kanan dan anjung kiwa (kiri).

    Tata Nilai Ruang

    Pada rumah Banjar Bubungan Tinggi (istana) terdapat ruang Semi Publik yaitu Serambi atau surambi yang berjenjang letaknya secara kronologis terdiri dari surambi muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan sebelum memasuki pintu utama (Lawang Hadapan) pada dinding depan (Tawing Hadapan ) yang diukir dengan indah. Setelah memasuki Pintu utama akan memasuki ruang Semi Private. Pengunjung kembali menapaki lantai yang berjenjang terdiri dari Panampik Kacil di bawah, Panampik Tangah di tengah dan Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat atau “dinding tengah” yang menunjukkan adanya tata nilai ruang yang hierarkis. Ruang Panampik Kecil tempat bagi anak-anak, ruang Panampik Tangah sebagai tempat orang-orang biasa atau para pemuda dan yang paling utama adalah ruang Panampik Basar yang diperuntukkan untuk tokoh-tokoh masyarakat, hanya orang yang berpengetahuan luas dan terpandang saja yang berani duduk di area tersebut. Hal ini menunjukkan adanya suatu tatakrama sekaligus mencerminkan adanya pelapisan sosial masyarakat Banjar tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas adalah golongan berdarah biru disebut Tutus Raja (bangsawan) dan lapisan bawah adalah golongan Jaba (rakyat) serta diantara keduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan jabatan-jabatan dalam Kerajaan beserta kaum hartawan.

     Tawing Halat/Seketeng

    Ruang dalam rumah Banjar Bubungan Tinggi terbagi menjadi ruang yang bersifat private dan semi private. Diantara ruang Panampik Basar yang bersifat semi private dengan ruang Palidangan yang bersifat private dipisahkan oleh Tawing Halat artinya “dinding pemisah”, kalau di daerah Jawa disebut Seketeng. Jika ada selamatan maupun menyampir (nanggap) Wayang Kulit Banjar maka pada Tawing Halat ini bagian tengahnya dapat dibuka sehingga seolah-olah suatu garis pemisah transparan antara dua dunia (luar dan dalam) menjadi terbuka. Ketika dilaksanakan “wayang sampir” maka Tawing Halat yang menjadi pembatas antara “dalam” (Palidangan) dan luar (Paluaran/Panampik Basar) menjadi terbuka. Raja dan keluarganya serta dalang berada pada area “dalam” menyaksikan anak wayang dalam wujud aslinya sedangkan para penonton berada di area “luar” menyaksikan wayang dalam bentuk bayang-bayang.

    Denah Cacak Burung

    Denah Rumah Banjar Bubungan Tinggi berbentuk “tanda tambah” yang merupakan perpotongan dari poros-poros bangunan yaitu dari arah muka ke belakang dan dari arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral. Di tengah-tengahnya tepat berada di bawah konstruksi rangka Sangga Ribut di bawah atap Bubungan Tinggi adalah Ruang Palidangan yang merupakan titik perpotongan poros-poros tersebut. Secara kosmologis maka disinilah bagian paling utama dari Rumah Banjar Bubungan Tinggi. Begitu pentingnya bagian ini cukup diwakili dengan penampilan Tawing Halat (dinding tengah) yang penuh ukiran-ukiran (Pohon Hayat) yang subur makmur. Tawing Halat menjadi fokus perhatian dan menjadi area yang terhormat. Tawang Halat melindungi area “dalam” yang merupakan titik pusat bangunan yaitu ruang Palidangan (Panampik Panangah). 

    $elaMat daTang SemUa….!!!!

    Posted by: hapsah on: April 24, 2008

    Sekarang ini bentar ja yang namanya ketinggalan informasi, kata orang tuh seperti meraba dalam “gelap”. Sumpah dech aku sendiri ja hampir nangis membuat ini blog. Semua orang tidak ada yang mau di bilang “gaptek”, malunya setengah mati kalau benar-benar ketahuan gaptek”nya. “Hari gini Gaptek”, cape dech…..!!!!!!!!!

    Kaitkata:

    Hello world!

    Posted by: hapsah on: April 24, 2008

    Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


    • Tidak ada
    • hapsah: biar ja ndut tp seksi lho..... asal da yang mencintai,hehehe.... g usah bingung mas...
    • rumadi: MAKIN GENDUT AJAAAAA.MAKAN APA KAM SAH.......
    • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Kategori

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.